Topografi yang berbukit-bukit membuat Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, punya banyak air terjun. Di antara sekian banyak itu, ada tiga air terjun yang paling terkenal di Kabupaten Lombok Utara. Yakni, Singang Gila, Tiu Kelep, dan Batara Lenjang, yang berlokasi di Desa Senaru, Kecamatan Bayan.
MESKI berasal dari sumber yang sama, yakni Danau Segara Anak di puncak Gunung Rinjani, tiga air terjun di Senaru itu punya karakteristik yang berbeda. Yang paling sering dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun asing, adalah air terjun Singang Gila dan Tiu Kelep. Selain paling indah, akses menuju keduanya relatif mudah bagi wisatawan yang suka berwisata petualangan dan tantangan.
Bukan jalan setapak yang menjadi akses menuju dua air terjun tersebut. Yang tersedia adalah jalur aliran air yang berujung pada titik jatuh air terjun itu. Jadi, pengunjung harus siap sedikit berbasah-basah dan berhati-hati selama setengah jam menyusuri jalur tersebut sebelum sampai di air terjun itu.
Dalam bahasa Sasak yang merupakan bahasa sehari-hari masyarakat Lombok, tiu berarti kolam, sedangkan kelep bermakna terbang. Terjemahan bebasnya adalah kolam tempat buih-buih air beterbangan di bawah air terjun setinggi sekitar 30 meter tersebut.
Pada saat-saat tertentu, butiran air yang beterbangan itu memunculkan pelangi di ujung air terjun. Sementara menikmati fenomena alam nan memesona tersebut, pengunjung bisa berenang atau sekadar berendam dalam kolam alami sedalam sekitar 2 meter.
Yang unik dari air terjun Tiu Kelep dan Singang Gila adalah bentuk yang bertingkat. Tiu Kelep berada di atas dengan deburan air yang lebih keras. Sebab, posisinya tegak lurus setinggi 30 meter.
Di bawahnya, air jatuhan Tiu Kelep melewati tebing miring yang berlumut hijau. Itulah air terjun Singang Gila.
Singang Gila berasal dari bahasa Sasak yang berarti bukit atau tempat gila. Nama Gila digunakan oleh para melokak (orang tua) Bayan untuk memberikan kesan angker terhadap mata air. “Tujuannya, masyarakat tidak merusak mata air Singang Gila,” jelas Kades Senaru Raden Akri Buana.
Karena kepercayaan itu, kemurnian air di dua tempat tersebut terjaga. Apalagi, keduanya berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Dengan posisi yang berbeda seperti itu, fungsi semula Tiu Kelep dan Singang Gila -sebelum menjadi objek wisata- juga berbeda. Air dari Singang Gila cenderung digunakan untuk pengairan sawah. Sedangkan air Tiu Kelep lebih sering dimanfaatkan untuk konsumsi warga sekitar Senaru Atas.
Ingin berlama-lama menikmati suasana alami di dekat dua air terjun itu? Silakan bermalam. Namun, jangan berharap menemukan penginapan di sana. Sebagai ganti, ada camping ground untuk mendirikan tenda.
Mencapai air terjun ketiga, yakni Batara Lenjang, adalah perjalanan yang lebih menantang. Meski masih satu aliran dengan dua air terjun sebelumnya, Batara Lenjang berada di posisi yang lebih tinggi, di atas lembah kawasan TNGR.
Memang air terjun Batara Lenjang tidak seindah dan setinggi saudara-saudaranya, Singang Gila dan Tiu Kelep. Namun, air terjun itu lebih besar dengan posisi masih sangat alami. Belum banyak wisatawan yang mengunjungi Batara Lenjang.
Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalur pendakian. Perjalanan dari pos pemeriksaan pertama sampai pintu rimba bisa ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Dari pintu rimba itu, ada jalan setapak menuju Batara Lenjang. Pengunjung tidak perlu takut tersesat. Sebab, ada pemandu wisata yang siap mengantar.
Yang menarik dari Batara Lenjang, ada air panas yang jernih. Sayang, potensi wisata tersebut belum digarap secara optimal.
Santap Makanan Khas Bayan, Nasi Ayam Pelecing
MENCAPAI lokasi objek wisata tiga air terjun di Senaru tidak terlalu sulit. Dari ibu kota Provinsi NTB, Mataram, perjalanan ke sana bisa ditempuh dengan menggunakan angkutan umum dari Terminal Mandalika Cakranegara menuju Terminal Anyar di Kecamatan Bayan.
Dari Terminal Bayan, perjalanan dilanjutkan ke Terminal Batu Koq. Total durasi perjalanan dari Mataram sampai Batu Koq sekitar 1,5 jam. Terminal Batu Koq itu sekaligus menjadi pos pendakian bagi pendaki Gunung Rinjani.
Begitu sampai di Terminal Batu Koq, jangan buru-buru masuk ke dalam lokasi wisata. Nikmati dulu makanan khas Bayan, yaitu nasi ayam pelecing, di Warung Galang Ijo, Inak Jedan. Letak warung tersebut tepat di samping terminal dan di depan pintu masuk wisata air terjun.
Tepat di sisi pintu masuk ada showroom cendera mata. Pakaian-pakian khas Lombok bisa diperoleh di sini. Beberapa merchandice Gunung Rinjani juga bisa didapatkan di pintu masuk itu.
Bila sudah kenyang dan puas dengan nasi ayam pelecing, perjalanan wisata bisa dilanjutkan dengan masuk gerbang di dekat terminal tersebut. Perjalanan dimulai dengan tangga turun dari gerbang.
Perlu waktu sekitar 15 menit dari gerbang sampai ke titik jatuh air terjun Singang Gila. Perjalanan pulang tentu saja lebih lama karena harus naik dan biasanya wisatawan sudah lelah.
JPNN