Sunday, September 5, 2010 8:02 WITA

Nikmati Pemandangan Bawah Laut Tanpa Harus Pandai Berenang

Oleh web admin pada Monday, July 26, 2010, 9:26

Bagaimana mengubah blog WordPress menjadi MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Tutorial komplit dilengkapi Software dan Script Siap Pakai SEO Complete Guide for Wordpress Instant Internet Business Ideas


146981large Nikmati Pemandangan Bawah Laut Tanpa Harus Pandai Berenang
Kalau dibilang tidak perlu berenang untuk bisa menikmati pesona dasar laut, maksudnya bukan menyaksikan keindahan bawah air dengan perahu berdasar kaca seperti di Pasir Putih atau beberapa pantai lain. Di Gili Trawangan, Lombok Barat, NTB, kita benar-benar bisa menikmati pemandangan bawah laut, bahkan bercengkerama dengan ikan, tanpa harus pandai berenang.

Tiap kali berwisata ke pantai, pemandu wisata biasanya menawarkan kesempatan menikmati keindahan dasar laut. Tapi, bila bilang tidak bisa berenang, pemandu wisata itu biasanya mundur. Paling pol, dia ganti menawarkan jasa perahu berdasar kaca untuk bisa menikmati terumbu karang tanpa harus berbasah-basah.

Tawaran itu kembali kami terima saat berkesempatan ke Lombok ketika liburan sekolah lalu. Setiba di hotel di Senggigi, sekitar 30 menit perjalanan dari Bandara Selaparang, Mataram, pemandu wisata yang menjemput kami di bandara langsung mendekati anak-anak. Dia menceritakan keindahan Gili Trawangan, pulau kecil di barat laut Lombok. Dia juga bilang bisa menyaksikan keindahan dasar laut dan bercengkerama dengan ikan di sana.

Karena sudah beberapa kali ditawari begitu, anak-anak langsung menjawab, ”Kami tidak bisa berenang, Om.”

Tadinya, kami yakin pemandu wisata itu akan mundur, seperti pemandu wisata di beberapa pantai yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Di luar dugaan, pemandu wisata itu hanya tersenyum.

”Wisatawan yang kami antar umumnya juga bilang begitu. Tapi, tidak perlu khawatir. Meski tidak bisa berenang, adik tetap bisa menikmati kecantikan dasar laut. Ingin menyentuh, bahkan menangkap, ikan pun bisa,” katanya. ”Wah, mau, mau!” anak-anak langsung semangat.

Karena hari mulai gelap, kami langsung masuk kamar seusai check-in. Apalagi, si bungsu yang sedang pilek sejak di pesawat mengeluh telinganya sakit. Jadi, dia tidak berminat jalan-jalan.

Tapi, si sulung tampak tidak puas. Karena itu, saya dan dia pergi ke Senggigi malam itu. Dari hotel ke pusat wisata Senggigi sebetulnya hanya sekitar satu kilometer. Kami pikir, berjalan kaki menyusuri pantai mestinya asyik. Namun, baru 200 meter jalan, kami kembali ke hotel dan minta dipesankan taksi. Sebab, jalanan gelap bukan main.

Tiba di Senggigi, tidak tampak tanda-tanda pantai. Yang ada justru puluhan kafe dan hotel. Tampaknya, untuk ke pantai, kita harus masuk gang. Lalu, sekitar 200 meter dari mulut gang, ada lorong sempit yang tidak bisa dilalui mobil. Kami harus berjalan kalau ingin ke pantai. Problemnya, lorong itu gelap juga.

Akhirnya, kami minta di antar ke punggung bukit di atas Hotel Sheraton Senggigi. Ada beberapa penjual jagung bakar dan sate usus sapi di sana. Tapi, lagi-lagi gelap.

Meski begitu, kami putuskan singgah dan memesan jagung bakar serta sate usus. Suasananya enak di sana. Si sulung terlihat juga menikmati. Apalagi, dari ketinggian itu, samar-samar tampak Pantai Senggigi di kejauhan. Kami bayangkan, pemandangan dari sana tentu cantik saat siang.

Benar saja, saat melewati tempat itu dalam perjalanan ke Gili Trawangan, pemandangan di sana memang memukau. Deretan bungalo di sepanjang garis pantai yang melengkung jauh di bawah sana sungguh menawan. Di antara dahan pohon randu di tepi jalan, tampak kapal pesiar dengan tiang layarnya yang menjulang. Sungguh peman­da­ngan yang memanjakan mata.

Betah rasanya berlama-lama di sana. Tapi, karena harus bergegas agar bisa lebih lama di Gili Trawangan, kami putuskan melanjutkan perjalanan setelah beberapa kali berfoto.

Secara umum, sepanjang perjalanan kami menikmati pemandangan cantik dengan garis pantai di kiri jalan dan bukit di kanan jalan. Bila jalan tidak berada tepat di bibir jurang berdasar laut, lahan antara jalan dan pantai dipenuhi ribuan pohon kelapa yang berdiri gagah.

Di kebun kelapa itu, hampir selalu terlihat gerombolan kambing atau lembu yang sedang merumput. Sungguh pemandangan unik yang mungkin tak ditemui di tempat lain.

Sekitar sejam perjalanan, kami tiba di Terminal Pamenang. Di sana, kami memarkir mobil, lalu melanjutkan perjalanan dengan cidomo ke dermaga penyeberangan Bangsal. Cidomo adalah singkatan dari cikar, dokar, mobil. Itu merupakan kendaraan angkut dengan gerobak cikar, tapi ditarik kuda (bukan sapi) seperti dokar dan menggunakan ban mobil.

Dari dermaga Bangsal, hanya butuh 20 menit untuk menyeberang ke Gili Trawangan. Sayang, matahari telah di ubun-ubun. Terik matahari seperti menggigit. Karena itu, kami putuskan menyewa cidomo untuk berkeliling pulau sebelum terjun ke air. Tarifnya Rp 100 ribu sekali putar.

Seperti Senggigi, Gili Trawangan ternyata juga menjadi surga bagi mereka yang suga dugem. Hampir di separo pulau, kami temukan deretan kafe di kiri jalan yang berbatasan langsung dengan pantai dan hotel di kanan jalan.

Di separo perjalanan lainnya, bibir pantai masih kosong. Ada perkampungan di tengah hamparan kebun kelapa. Di halaman rumah-rumah di sana, onggokan ribuan buah kelapa seolah menjadi pemandangan wajib.

Ada mercusuar juga sebetulnya. Sayang, cidomo kami tidak mau berhenti barang sejenak pun. Padahal, di beberapa bibir pantai yang membentuk sudut, pemandangan laut sungguh menggoda meski air sedang surut. Sebetulnya, akan lebih bebas seandainya kami menyewa sepeda saja untuk keliling pula.

Sewa motor? Jangan harap. Di Gili Trawangan tidak ada kendaraan bermotor barang secuil pun.

Puas berkeliling, plus bonus pinggang pegal karena jalanan yang kami lewati sangat bergelombang, kami putuskan pesan makan sambil bersantai sejenak di tempat-tempat lesehan yang bertebaran di bibir pantai. Tarif makanan di sini tak jauh berbeda dari harga di kafe-kafe ber-hot spot di Surabaya. Roti lapis, misalnya, dibanderol Rp 45 ribu.

Akhirnya, saat matahari mulai tergelincir, pemandu kami datang dengan peralatan snorkeling. Anak-anak langsung bergairah. Sewa peralatan snorkel di Gili Trawangan Rp 50 ribu per set.

Setelah ganti pakaian renang, pakai pelampung, dan diberi sedikit pengarahan cara bernapas dengan mulut, anak-anak langsung terjun ke laut. Sekitar 15 menit kemudian, si sulung sudah asyik mengapung di tengah laut. ”Wow, seru!” itu saja komentarnya sekeluar dari laut.

Toh, komentar pendek itu sudah cukup untuk membuat si bungsu jadi tidak sabar. Kali ini, pemandu kami menyiapkan botol air minum yang telah diisi remah roti, baru membawa si bungsu berenang ke tengah laut. Keluar dari air, komentar si bungsu lebih panjang. ”Asyik, Pa. Bisa pegang ikan. Jinak kok ikannya. Sayang tidak bisa ditangkap. Licin,” katanya.

Mendengar itu, si sulung jadi ingin masuk air lagi. Jadilah masing-masing tiga kali bergantian ”melaut”. Kalau saja perahu motor kami tidak keburu datang, anak-anak pasti betah terus di air sampai gelap.

Sebetulnya, terumbu karang di Pantai Gili Trawangan belum jadi. Belum tampak ”cabang” yang bergoyang-goyang seolah melambai di dalam air. Bisa jadi, pemandangan yang didapat akan jauh lebih cantik andai lebih ke tengah. Anak-anak memang hanya diajak main dalam jarak 15-20 meter dari bibir pantai.

Bagaimanapun, mereka senang. Maklum, karena tidak bisa berenang, tak pernah terlintas dalam bayangan mereka bisa bercengkerama dengan ikan di laut. Karena itu, pengalaman tersebut ibarat bonus kejutan bagi mereka.

Kembali naik perahu motor, baru terasa badan capek semua. Tampaknya, sepanjang perjalanan pulang, kami akan pulas. Toh, pemandangannya akan sama sama saja dengan waktu berangkat.

Tapi, sekali lagi, kami salah. Rute pulang, rupanya, beda. Sopir memilih lewat Pusuk, areal hutan yang terkenal dihuni banyak monyet. Hewan-hewan itu bahkan tidak hanya bisa dilihat bergelantungan di pepohonan, tapi juga merapat di pinggir jalan.

JPNN



Beri Tanggapan

powered by jasa pembuatan website ukm